Beranda | Artikel
Ibadah yang Sia-Sia Karena Syirik dan Bidah
Rabu, 19 Mei 2010

Segala puji bagi Allah ta’ala, Rabb semesta alam, Maha Mendengar lagi Maha mengetahui, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi dan Rasul terakhir yang diutus kepada jin adan manusia untuk mengajarkan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dan petunjuk menuju keridhoan dan surga Allah tabbaraka wa ta’ala, dan juga kepada keluarga, sahabat serta pengikut beliau Shalallahu alaihi wa salam hingga akhir zaman.

 

 

Kenapa Kita Diciptakan?

Saudaraku yang dimuliakan Allah ta’ala Tabbaraka wa ta’ala, Allah telah menciptakan manusia tidak hanya untuk makan dan minum, menikah, berkeluarga lalu meninggal dan menjadi debu. Maka sekali-kali tidaklah demikian wahai saudaraku. Tujuan penciptaan manusia telah disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Ad Dzariyyat: 56)

Adapun makna “beribadah kepada-Ku” dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam ayat yang lain,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Sehingga tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.[1]

 

Ikhlas dan Ittiba’, Syarat Diterimanya Ibadah

Saudaraku, ketahuilah Allah ta’ala telah menetapkan bahwa amal ibadah seorang hamba tidak dinilai sebagai sebuah sebuah ibadah melainkan dengan memenuhi 2 syarat, ikhlas dan ittiba (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Allah ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An Nahl: 97)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah berjanji, barangsiapa yang beramal sholih, yaitu beramal dengan mengikuti petunjuk Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, baik laki-laki maupun perempuan di antara manusia sedangkan hati mereka dalam keadaan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka inilah yang Allah akan berikan kehidupan yang baik di kehidupan dunia dan memberikan bagi mereka pahala yang lebih baik dari apa yang dahulu mereka kerjakan. Adapun makna kehidupan yang baik adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

قد أفلح من أسلم ورُزق كفافا، وقَنَّعه الله بما آتاه

“Sungguh beruntung seorang yang masuk islam, lalu dicukupkan rizkinya, dan Allah berikan kepadanya rasa cukup (qona’ah) terhadap rizki yang Allah berikan kepadanya” (HR Muslim no 1054)[2]

Syirik dan Bid’ah Membuat Ibadah Jadi Sia-Sia

Saudaraku … Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk memahami dan mengamalkan ajaran islam. Tatkala Allah telah mentepkan bahwa amalan seorang hamba hanya sah di sisi Allah sebagai sebuah ibadah ketika dilakukan dengan ikhlas dan Ittiba’. Maka Allah pun telah menetapkan bahwa ibadah seorang hamba akan sia-sia manakala dikerjakan tidak sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah dan atau terselip di hati hamba perbuatan syirik. Syirik dan Ikhlas, Bid’ah dan Ittiba’ adalah 2 hal yang saling meniadakan satu dengan yang lain, tidak mungkin keduanya terkumpul pada seorang hamba bagaikan siang dan malam, gelap dan terang yang tidak mungkin berkumpul dalam satu waktu dan sebagiannya akan meniadakan sebagian yang lain. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah kami wahyukan kepada kamu wahai Muhammad, dan kepada Nabi-Nabi sebelum kamu, jika engkau berbuat syirik, sungguh akan hapuslah seluruh amalanmu, dan sungguh kamu akan benar-benar menjadi orang-orang yang merugi” (QS. Az Zummar: 65)

Perhatikanlah wahai saudaraku, andaikata Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam berbuat syirik kepada Allah, maka seluruh amalan ibadah yang beliau kerjakan akan lenyap dan sia-sia. Padahal beliau adalah manusia yang paling mulia lagi dicintai Allah tabbaraka wa ta’ala, maka bagaimanalagi dengan kita?

Setelah kita mengetahui kenyataan bahwa syirik adalah pemupus harapan sebuah amalan untuk bisa dikatakan sebagai ibadah yang bernilai disisi Allah, mari sejenak kita memperhatikan dalil-dalil, serta atsar yang menunjukkan betapa bid’ah adalah lawan dari ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan amalan bid’ah tidak teranggap di sisi Allah sebagai sebuah ibadah. Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa beramal dengan amalan yang bukan berasal dari ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR Muslim)

Seorang sahabat mulia, Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”[3]

Dengan memperhatikan dalil dan perkataan sahabat di atas, sudah cukup bagi kita untuk memahami, betapa sebuah amalan akan sia-sia dan tidak bernilai di sisi Allah ta’ala jika seseorang tidak mengikuti petunjuk Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Penulis: Abu Hafsah Rahmat Ariza Putra (Mahasiswa UGM)

Muroja’ah: M. A. Tuasikal

Artikel www.remajaislam.com

 


[1] Lihat Kitab Ahamiyatu Tauhidil Ibadati karya Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hal 8 cet 1 1429 H, Darut Tauhid  Riyadh KSA

[2] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surat An Nahl: 97.

[3] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih. (ed)


Artikel asli: https://remajaislam.com/77-ibadah-yang-sia-sia-karena-syirik-dan-bidah.html